Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MAKALAH EKOLOGI INDUSTRI

MAKALAH EKOLOGI INDUSTRI

" MANAJEMEN LINGKUNGAN INDUSTRI "




LOGO KAMPUS




Disusun Oleh

Nama :
Nim:





PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI 
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS GOOGLE
2019

 BAB I
 PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang

Dewasa ini, pembangunan berkelanjutan serta dampak pengendalian lingkungan menjadi perdebatan publik baik nasional maupun internasional. Hal ini disebabkan oleh, semakin meningkatnya populasi manusia sehingga mengakibatkan tingkat konsumsi produk dan energi semakin meningkat juga. Permasalahan ini ditambah dengan ketergantungan penggunaan energi dan bahan  baku yang tidak dapat diperbarui. Pada awal perkembangan pembangunan, industri dibangun sebagai suatu unit proses yang tersendiri, terpisah dengan industri lain dan lingkungan. Proses industri ini menghasilkan produk utama,  produk samping dan limbah yang dibuang ke lingkungan. Limbah inilah yang harus mendapat perhatian khusus karena dapat mencemari lingkungan.

Pada umumnya, pengendalian pencemaran lingkungan dengan cara  pengolahan limbah sangat sulit untuk dilakukan secara berkala. Karenanya, para  pengelolah produksi sepakat untuk lebih mengarah pada penanganan sumbernya untuk mencegah atau meminimalkan limbah yang terbentuk. Strategi pencegahan  pencemaran dengan memfokuskan pada perbaikan sistem proses ini memberikan kinerja lingkungan yang lebih baik dan lebih ekonomis serta lebih ramah lingkungan.

Mengacu pada permasalahan diatas, maka banyak para peneliti saat ini mulai mengembangkan suatu sistem produksi yang dapat menghemat penggunaan  bahan baku dan energi dari alam. Sistem industri yang dapat dikembangkan untuk mengatasi masalah lingkungan ini disebut dengan ekologi industri, yang mana hal tersebut tidak hanya membahas tentang masalah polusi dan lingkungan tetapi juga mempertimbangkan kesinambungan industri serta aspek ekonomi menjadi fokus utamanya. Ekologi industri merupakan suatu sistem industri yang terpadu diantara industri-industri yang ada di dalamnya dan saling berinteraksi untuk menciptakan suatu produk yang lebih baik.

 Indonesia sebagai salah satu negara berkembang sebenarnya telah mengaplikasikan ekologi industri. Konsep ekologi industri yang dikembangkan di Indonesia masih sangat sederhana dan belum sampai tahap sistem ekologi industri yang menyeluruh. Konsep ekologi industri di Indonesia masih sangat berprospek untuk dikembangkan lebih lanjut sehingga pada akhirnya diperoleh suatu  pembangunan industri yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Dengan kajian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan pembangunan kawasan ekologi industri di Indonesia.


B. Tujuan

Makalah ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ekologi industri,  produk bersih dan pembangungan berkelanjutan serta penerapannya dalam agroindustri.



BAB II
PEMBAHASAN

Ekologi industri adalah suatu sistem yang digunakan untuk mengelola aliran energi atau material sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi dan menghasilkan sedikit polusi. Konsep ekologi industri merujuk kepada pertukaran antara sektor industri dimana pembuangan dari satu industri menjadi sumber  bahan baku bagi industri lainnya. Pada ekologi industri tidak hanya membahas tentang masalah polusi dan lingkungan tetapi juga mempertimbangkan kesinambungan industri serta aspek ekonomi tetap diutamakan. Penerapan ekologi industri ke dalam agroindustri diharapkan memiliki nilai tambah terhadap produk, karena dari satu sumber bahan baku dapat dihasilkan beragam poduk olahan. Pengembangan ekologi industri merupakan suatu usaha untuk membuat konsep  baru dalam mempelajari dampak sistem industri pada lingkungan (Xuemei 2007).

Konsep ekologi industri telah banyak dikembangkan di negara-negara maju seperti ekologi industri Kalundborg Denmark, Brownville Amerika Serikat dan Calgary Kanada. Di negara maju ekologi industri telah digunakan sebagai salah satu instrumen untuk merancang pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan Di negara berkembang yang menjadi persoalan utama adalah sumber daya alam yang melimpah namun masih belum dapat mengoptimalkan penggunaannya. Hal lain yang menghambat adalah kurangnya dukungan pemerintah secara nyata terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan  berwawasan lingkungan (Erkman 2000). Tujuan utamanya adalah untuk mengorganisasi sistem industri sehingga diperoleh suatu jenis produk yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Strategi untuk mengimplementasikan konsep ekologi industri ada empat elemen utama, yaitu mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan  pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energi yang tidak terbarukan. dengan menerapkan konsep ekologi industri, kawasan industri dapat mengembangkan sistem pertukaran limbah yang dapat bermanfaat bagi industri tersebut (Allen 2002). 

Perkembangan industri yang semakin pesat kurang diimbangi dengan  pemahaman akan dampak dari limbah yang dihasilkan. Industri ramah lingkungan adalah strategi untuk mencegah, mengurangi, dan menghilangkan terbentuknya limbah atau bahan pencemar pada sumbernya. Untuk mencapai kondisi tersebut, maka pengendalian pencemaran dengan cara mengolah limbah tersebut dilakukan untuk menurunkan tingkat bahayanya atau menurunkan tingkat pencemarannya serta menjadikannya bahan yang memiliki nilai tambah dengan menerapkan model air limbah ( zero waste), produksi bersih (cleaner production), produktivitas hijau ( green productivity) atau perusahaan hijau (green company). Manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan industri ramah lingkungan, salah satunya dapat mendorong pengembangan teknologi pengurangan limbah pada sumber-nya, teknologi bersih dan produk ramah lingkungan (Sulaeman 2007). Menurut Djajadiningrat (2004), sistem industri terdapat tiga tipe. Tipe I adalah sistem proses linier. Pada tipe ini energi dan material masuk pada sistem kemudian menghasilkan produk, produk samping, dan limbah. Limbah yang dihasilkan tidak dilakukan proses olah ulang sehingga membutuhkan pasokan bahan baku dan energi yang banyak. Sistem industri yang paling banyak digunakan saat ini adalah tipe II. Pada tipe ini sebagian limbah telah diolah ulang dalam sistem dan sebagian lagi dibuang ke lingkungan. Sistem tipe III merupakan sistem produksi kesetimbangan dinamik yang energi dan limbahnya diolah ulang secara baik dan digunakan sebagai bahan baku oleh komponen sistem lain. Pada sistem ini merupakan sistem industri yang tertutup total dan hanya energi matahari yang datang dari luar sistem. Hal ini merupakan sistem ideal yang menjadi tujuan ekologi industri.


Gambar 1. Tipe Sistem Produksi

Konsep ekologi industri terkait secara dekat dengan proses produksi bersih (cleaner  production) dan merupakan komplementer satu dengan lainnya. Kedua konsep melibatkan pencegahan pencemaran dalam rangka melindungi lingkungan dan meningkatkan efisiensi ekonomi. Produksi bersih lebih memfokuskan pada aspek pengurangan limbah, sementara ekologi industri lebih menekankan pada  pendauran suatu limbah yang terbentuknya tidak bisa dihindari (unavoidably produced waste) dengan mensinergikan antara unit satu dengan lainnya atau antara satu industri dengan industri lainnya. Selain terjadi pemanfaatan suatu material yang dihasilkan oleh suatu unit oleh unit lain, juga dimungkinkan terjadinya integrasi energi dari suatu unit oleh unit lain di dalam suatu kawasan. Strategi untuk mengimplementasikan konsep ekologi industri ada empat elemen utama yaitu mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi, dan  pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energi yang tidak terbarukan.

Optimasi penggunaan material dan energi dalam kegiatan industri dimulai dengan menganalisis proses produksi untuk menghilangkan produk yang terbuang percuma. Langkah ini bisa dilakukan oleh suatu industri secara sendiri yang disebut dengan pencegahan polusi atau proses produksi bersih. Pencegahan polusi ini secara tidak langsung telah menyelamatkan lingkungan dan sumber daya yang ada sehingga tidak menyulitkan generasi yang akan datang untuk memanfaatkannya kembali. Dalam ekologi industri, siklus material tertutup masih  jauh dari optimal namun telah dapat memberikan hasil yang lebih baik. Hal ini karena dalam ekologi industri masih membutuhkan energi dari luar yang sebagian  besar dari energi fosil. Pembakaran bahan bakar fosil merupakan sumber utama limbah yang dihasilkan industri. Ekologi industri secara nyata dapat meningkatkan efisiensi energi dan emisi. Siklus material yang tertutup dapat memberikan keuntungan. 

Dalam ekologi industri juga berperan dalam meminimilisasi jumlah aliran bahan dan energi yang digunakan untuk proses  produksi. Hal tersebut dapat dicapai dengan dematerialisasi. Pada saat ini ada dua  proses dematerialisasi yang diperdebatkan yaitu proses dematerialisasi relatif dan dematerialisasi absolut. Proses dematerialisasi relatif menjelaskan bahwa suatu  proses produksi dan jasa diusahakan dapat menghasilkan produk dan jasa yang sebesar-besarnya dari penggunaan bahan baku yang ada. Proses dematerialisasi absolute menganggap bahwa dalam proses produksi harus meminimalkan  penggunaan bahan baku. Selanjutnya yaitu pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energi tidak terbarukan. Banyak usaha yang dilakukan untuk meningkatkan efisiensi energi dengan beberapa inovasi sepertico-generation. 

Hingga saat ini bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara, dan gas alam merupakan sumber energi utama untuk industri. Penggunaan bahan  bakar fosil dapat menyebabkan kerusakan lingkungan seperti efek gas rumah kaca, pemanasan global, dan hujan asam. Dalam rangka untuk mensinergikan dengan tujuan utama ekologi industri maka diperlukan langkah perbaikan. Pada tahap awal diperlukan usaha untuk membuat bahan bakar fosil yang ramah lingkungan seperti dengan proses dekarbonisasi dan pembersihan gas buang. Solusi di atas merupakan langkah perbaikan sementara, sehingga diperlukan usaha diversifikasi energi terutama energi yang dapat terbarukan seperti biodisel, biogas,  bioetanol, dan pemanfaatan energi matahari. 

Dengan melaksanakan seluruh strategi yang telah dipaparkan sebelumnya, maka berarti konsep pembangunan  berkelanjutan juga telah dilaksanakan dengan baik (Garner 1995). Banyak contoh kasus penerapan ekologi industri dalam agroindustri, salah satunya adalah pada industri pengolahan hasil perikanan yang merupakan salah satu agroindustri yang memanfaatkan hasil perikanan sebagai bahan baku untuk menghasilkan suatu produk yang bernilai tambah lebih tinggi. Industri perikanan seperti juga industri-industri yang lain selain menghasilkan produk yang diinginkan, juga menghasilkan limbah baik limbah padat maupun limbah cair.

Dengan makin meningkatnya kepekaan global terhadap masalah lingkungan,  produksi bersih menawarkan pemecahan yang secara ekonomis, paling baik dan masuk akal (Wiston 1994). Pendekatan pencegahan terhadap limbah menawarkan tingkat perlindungan yang paling tinggi terhadap pekerja dan kesehatan umum, termasuk perlindungan serta konservasi lingkungan baik lokal maupun global. Keuntungan lain selain daripada keuntungan yang bersifat lingkungan yaitu keuntungan ekonomis yang dapat berupa reduksi biaya dari bahan baku, serta  pengembangan produk baru dari limbah yang direkonversi (Hirschhorn 1994). Penerapan ekologi industri pada industri perikanan dapat dilakukan dengan  optimasi pemanfaatan air limbah dan bahan baku serta pengelolaan alternatif  perlakuan efluen. Penggunaan air yang besar pada industri perikanan menyebabkan efluen yang besar pula terhadap lingkungan, karena jumlah konsumsi air pada dasarnya sama jumlahnya dengan aliran efluen (Riveret al  1998) .

Penggunaan air pada setiap proses berasal dari 2 arus utama yaitu air yang digunakan untuk proses dan air yang digunakan untuk mencuci peralatan dan lantai. Air untuk mencuci bisa direduksi dengan system countercurrent washing ,  penghilangan solid sisa-sisa potongan sebelum pencucian, atau dengan menggunakan detergen sesuai dengan persyaratan minimum. Pada pabrik  pengalengan(canning) penggunaan ulang (reuse) air dari autoclave dan daur ulang (recycle) air dari pompa vacuum dapat mereduksi konsumsi air dari 692 m3/hari menjadi 389,2 m3/hari. Pada pabrik pengolahan ikan salmon, daur ulang air dari pompa vakum dapat mereduksi konsumsi dari 377,0 menjadi 256,4 m3/hari. Penggunaan kembali air dari proses pendinginan“cooked crustacea”untuk pencucian dapat mereduksi konsumsi air dari 712,6 menjadi 568,6 m3/hari. Pengelolaan dan alternatif perlakuan efluen dapat dilakukan dengan  perlakuan terhadap volume total dan perlakuan paralel.perlakuan terhadap volume total paling sesuai diterapkan apabila efluen mempunyai volume yang kecil dengan karakteristik yang seragam. Perlakuan paralel pada setiap stream atau sekelompok stream  dipilih jika efluen menunjukkan keadaan yang berlawanan  perlakuan terhadap volume total. Karakteristik efluen dari industri perikanan mengandung organik yang tinggi, sehingga perlakuan yang paling sesuai adalah dengan flokulasi yang diikuti dengan depurasi biologis.

Recovery bahan-bahan organik (protein dan lemak) dapat mereduksi beban organik efluen dan sekaligus meningkatkan produktifitas jika dikaitkan dengan pengolahan ulang bahan organik yang di
recovery. Perlakuan biologis bisa jadi menggunakan anaerobik atau aerobik, atau kombinasi keduanya. Pengolahan anaerobik sangat sesuai digunakan pada efluen dengan beban organik (COD) lebih tinggi dari 3 kgm-3, keuntungannya adalah produksi massa sel lebih rendah dari pengolahan aerobik  produksi metana proporsional terhadap penghilangan beban organik yang dapat digunakan sebagai sumber energi bagi reaktor. Disamping itu pengolahan aerobik memerlukan biaya operasional yang tinggi untuk mensuplai oksigen, meskipun  biaya investasinya relatif rendah. Selain itu efisiensi degradasi beban organik (COD) lebih besar dari 3 kgm-3 cukup rendah (Riveret al  1998). 

Selain pada industri perikanan, penerapan ekologi industri juga dapat dilakukan pada industri gula atau industri tebu. Penerapan ekologi industri dalam industri tebu dapat dilakukan dengan empat tahap, yaitu perancangan,  penanganan, pencegahan dan pemanfaatan limbah.

 Pada tahapan awal  perancangan proses, yaitu pada saat riset dan pengembangan proses akan menentukan aktifitas pengembangan pada tahapan selanjutnya, seperti dalam hal  pemilihan jenis peralatan, material, dan kondisi proses. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dengan mengarahkan isu lingkungan pada awal siklus  pengembangan, masalah teknis dan nonteknis (konsekuensi ekonomis dan  peraturan perundangan) yang akan muncul di depan dapat diantisipasi. Hal ini dapat mereduksi resiko teknis dan ekonomis yang berkaitan dengan isu lingkungan.  


Gambar 2. Kawasan Ekologi Agroindustri
Gambar 2. Kawasan Ekologi Agroindustri
Gambar kawasan ekologi industri di atas menjelaskan proses penataan kawasan dimulai dari kawasan pertanian tebu rakyat. Hasil tebu diproses di industri gula menghasilkan produk gula dan produk samping tetes tebu serta selulosa. Tetes tebu digunakan sebagai bahan baku industri penyulingan etanol sedangkan serat selulosa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kertas. Pada industri kertas dihasilkan produk kertas dan limbah lumpur yang telah diolah dapat menjadi bahan baku industri pupuk organik. Industri penyulingan etanol dapat menghasilkan produk etanol dan efluen yang dapat dijadikan bahan baku industri biogas. Industri biogas dapat menghasilkan energi yang dapat memasok kawasan tersebut. Limbah – limbah yang dihasilkan telah sangat berkurang kuantitas dan sifat toksisitasnya. Limbah tersebut diolah secara terpadu sehingga dihasilkan limbah yang ramah lingkungan. Air limbah yang telah diolah dapat  juga dikembalikan sebagai air proses di industri.


Pada tahap penanganan limbah, ada beberapa jenis limbah yang harus ditangani, misalnya penanganan limbah blotong . Penanganan awal untuk sisa  blotong (produksi blotong - blotong yang telah dimanfaatkan petani) perlu ditangani dengan cara menanam ke dalam lubang pembuangan awal sebelum dimanfaatkan kembali sebagai pupuk. Hal ini dilakukan untuk menghindari  pandangan dan bau yang tidak sedap. Kemudian penanganan limbah tetes tebu. Penyimpanan tetes tebu dalam tangki dapat ditangani dengan cara mengantisipasi suhu tetes, yaitu sebelum dikirim ke tangki tetes suhu tetes harus berkisar antara 35 –  40oC. Misalnya dengan cara melewatkan tetes tersebut melalui pendingin sehingga tetes yang keluar dari pendingin tersebut berkisar 35 –  40oC.  


Kemudian pencegahan limbah dapat dilakukan dengan pengurangan  pemakaian bahan pembantu proses (kapur dan belerang) yang berlebihan dengan kontrol kondisi proses pemurnian nira yang efektif melalui optimasi pH, suhu dan waktu. Dengan memperhatikan kualitas bahan baku yang diolah dan hasil  pemurnian yang ingin dicapai maka kondisi operasional proses yang optimal dapat ditetapkan, sehingga pemakaian bahan pembantu proses dapat ditekan. Dampaknya jumlah blotong dan gas SO2 dapat ditekan pula.

Kemudian pemanfaatan limbah industri gula. Limbah dari tebu yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan antara lain adalah blotong, tetes tebu, dan  pucuk tebu. Pucuk tebu adalah limbah tebu yang memiliki potensi sangat besar. Pucuk tebu dapat dimanfaatkan untuk pakan ruminansia. Blotong adalah limbah yang dapat dipisahkan dengan proses penapisan dalam proses klarifkasi nira yang  juga dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Untuk meningkatkan nilai gizi dari  protein pada blotong perlu dilakukan fermentasi dengan menggunakan kapang. Ampas tebu juga dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik yang dijual ke rumah tangga. Misalnya saja sisa ampas tebu pada musim giling 2008 (279.332 ton) dapat menghasilkan listrik sekitar 36 ribu MW, atau dapat untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 60.000 rumah tangga di lingkungan pabrik gula selama 6  bulan (asumsi kebutuhan rumah tangga 100 KW per bulan) yang menghasilkan rupiah sekitar Rp. 18 Milyard. Di dalam tetes tebu terkandung sukrosa antara 35 - 45 %, gula invert antara 17–35 %, total gula sebagai invert (TSAI) antara 60 - 70 %. Hal ini merupakan bahan baku yang potensial bagi produk-produk fermentasi dan salah satu diantaranya adalah sirup invert. Untuk menjadikan gula dalam tetes menjadi invert semua maka komponen sukrosa harus diinversi terlebih dahulu. Proses inversi sukrosa menjadi gula invert yang banyak diminati adalah cara enzimatis karena tidak bersifat korosif terhadap peralatan yang digunakan. Proses inversi menggunakan ragi roti optimal pada larutan brix tetes 50 %, pH 4,5, suhu inkubasi 60oC selama 24 jam. Di samping dapat dibuat alkohol atau spiritus dan sirup invert, tetes tebu juga dapat dipakai sebagai bahan baku L-lysine dan media untuk pembuatan sodium glutamate  di pabrik vitsien. Bahkan tetes tebu saat ini merupakan komoditas eksport non migas yang cukup menjanjikan (Darmayani et al  2010).

Selain industri pabrik gula dan industri perikanan, industri CPO juga menerapkan konsep ekologi industri. Kegiatan perkebunan dan pengolahan kelapa sawit merupakan kegiatan yang sangat memungkinkan untuk menerapkan konsep zero emissions, karena hampir semua limbah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali. Oleh karena itu, pemerintah dewasa ini sangat memperhitungkan dan memprioritaskan penerapan produksi bersih pada komoditi kelapa sawit. Karena dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat dunia tentang pelestarian lingkungan hidup serta adanya persaingan pada pasar global, maka mutu produk tidak hanya dilihat dari aspek fisik dan kimianya saja, tetapi juga aspek lingkungannya. Berdasarkan karakteristik limbah seperti yang telah dijelaskan di atas  bahwa limbah pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) mengandung bahan organik dan mineral. Limbah tersebut dapat dimanfaatkan dengan melakukan pengolahan lebih lanjut sehingga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Pengolahan limbah akan bermanfaat bukan hanya untuk mencegah pencemaran terhadap lingkungan tetapi dapat juga untuk meningkatkan pendapatan usaha perkebunan kelapa sawit. Hal ini sekaligus untuk mewujudkan industri PMKS dengan zero waste. Beberapa contoh pemanfaatan limbah PMKS yaitu sebagai bahan  pembuatan kompos. Pengomposan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nilai hara dan menurunkan volume TKS (tandan kosong segar). Dengan demikian biaya transportasi perunit hara yang tinggi pada aplikasi TKS secara langsung dapat dikurangi. Disamping itu pemanfaatan TKS sebagai bahan  baku kompos dapat mengurangi permasalahan akibat menumpuknya TKS dipabrik, memberi tambahan keuntungan pada PMKS dari penjualan kompos dan  penggunaan pupuk organ. Kemudian limbah padat minyak kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar PLTU dan boiler pada pabrik. Limbah padat kelapa sawit (serabut fiber) kelapa sawit dan cangkang kelapa sawit yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler pada pabrik pengolahan kelapa sawit dapat manfaatkan juga sebagai bahan bahar pusat listrik tenaga uap (PLTU). Dari  pengujian yang dilakukan terbukti bahwa nilai kalor yang dihasilkan dari bahan uji/sampel setelah karbonisasi lebih besar dari pada sebelum karbonisasi,  peningkatannya mencapai 14% pada batubara, 65% pada (serabut fiber) kelapa sawit dan 34% pada cangkang kelapa sawit. Analisa pengujian bahan/sampel yang diaplikasikan pada pusat listrik tenaga uap (PLTU) dengan asumsi daya yang dihasilkan 10 MWh menujukkan bahwa yang memiliki efektifitas tinggi yang  pertama adalah solar (791,256 kg atau setara dengan 648,82 liter), yang kedua adalah cangkang kelapa sawit (1,2 ton), yang ketiga adalah batubara (1,3 ton) dan yang keempat adalah serabut (fiber) kelapa sawit (1,4 ton). Cangkang dan serabut (fiber) kelapa sawit sangat efektif untuk bahan bakar alternatif pada PLTU, karena  biaya yang murah, dampak lingkungan yang cukup kecil jika dibandingkan dengan batubara, dalam ketersediaannya kelapa sawit cukup memenuhi karena  jumlah perkebunan kelapa sawit di Indonesia pada tahun 2012 yang lebih dari 8  juta ha. Kemudian limbah cair PMKS dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk membuat bahan baku untuk membuat gas bahan bakar. Secara alami limbah cair yang ditampung pada bak penampungan limbah cair PMKS menghasilkan  biogas metan (CH4) akibat proses fermentasi bakteri penghasil metan. Gas metan yang terbentuk masuk ke lingkungan sebagai gas efek rumah kaca (ERK). Agar gas yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan maka limbah cair PMKS dialirkan ke dalam suatu bioreaktor tempat terjadinya fermentasi. Gas metan yang dihasilkan dialirkan kerumah penduduk sesuai dengan pemanfaatannya. Potensi  biogas yang dihasilkan dari 600-700 kg limbah cair PMKS dapat diproduksi sekitar 20 m3 gas metan. Karena limbah cair PMKS di Indonesia mencapai 28,7  juta ton/tahun dan limbah padat 15,2 juta ton/ tahun. Dari limbah tersebut dapat menghasilkan biogas 90 juta m3, yang setara dengan 187,5 milyar ton gas elpiji. Jumlah biogas ini dapat memenuhi kebutuhan gas satu milyar KK (kepala keluarga) selama setahun.


BAB III
 PENUTUP 

Simpulan

Ekologi industri tidak hanya membahas tentang masalah polusi dan lingkungan tetapi juga mempertimbangkan kesinambungan industri serta aspek ekonomi tetap diutamakan. Penerapan ekologi industri ke dalam agroindustri diharapkan memiliki nilai tambah terhadap produk, karena dari satu sumber bahan  baku dapat dihasilkan beragam poduk olahan. Tujuan utamanya adalah untuk mengorganisasi sistem industri sehingga diperoleh suatu jenis produk yang ramah lingkungan dan berkesinambungan. Strategi untuk mengimplementasikan konsep ekologi industri ada empat elemen utama, yaitu mengoptimasi penggunaan sumber daya yang ada, membuat suatu siklus material yang tertutup dan meminimalkan emisi, proses dematerialisasi dan pengurangan dan penghilangan ketergantungan pada sumber energi yang tidak terbarukan. dengan menerapkan konsep ekologi industri, kawasan industri dapat mengembangkan sistem  pertukaran limbah yang dapat bermanfaat bagi industri tersebut. Konsep ekologi industri di negara berkembang sepertti Indonesia masih belum diaplikasikan secara maksimal, hal tersebut karena belum adanya kesadaran dari pelaku industri dan belum adanya dukungan dari pemerintah. Penerapan ekologi industri perlu didukung dengan penerapan produksi bersih. Produksi bersih lebih memfokuskan  pada aspek pengurangan limbah, sementara ekologi industri lebih menekankan  pada pendauran suatu limbah yang terbentuknya tidak bisa dihindari (unavoidabl produced waste) dengan mensinergikan antara unit satu dengan lainnya atau antara satu industri dengan industri lainnya. Penerapan produksi bersih dan ekologi industri sangat mendukung terciptanya pembangunan yang berkelanjutan. Pengaplikasian ekologi industri dalam industri ikan dapat dilakukan dengan menghemat penggunaan air yang digunakan untuk proses dan yang digunakan untuk mencuci peralatan. Kemudian pada industri gula penerapan ekologi industri dapat dilakukan dengan menerapkan konsepCo-generation.Sedangkan penerapan ekologi industri dalam pabrik sawit dapat dilakukan dengan menggunakan kembali limbah yang dihasilkan dari pengolahan sawit.

Saran

Ekologi industri merupakan hal yang sangat penting bagi lingkungan, sehingga kita sebagai mahasiswa teknologi industri harus memahami dan menerapkan ilmu ekologi lingkungan, serta menumbuhkan kesadaran kita akan  pentingnya menjaga lingkungan. 



Posting Komentar untuk "MAKALAH EKOLOGI INDUSTRI"

POPULER SEPEKAN

Jangan Coba Coba Sprite dan Insto ini Efeknya
Ayla Tabrak CBR di Purwokerto, Tawari Ganti Rugi Mobil dan Rumah, Ini Kata Saksi
Demit Masuk Google Maps, Ikuti Petunjuk Suara Google Maps Sopir Mobil Ini Malah Kesasar di Hutan
Ajian Tepuk bantal Bikin Wanita Pujaan Hati Bertekuk Lutut
Mau Dikurangi Jokowi, Ini Jadwal Libur Tahun Baru 2020
Gambar
Edhy Prabowo Nyatakan Mundur dari Jabatan Menteri Kelautan dan Perikanan
Viral Pria Lulusan S2 yang Memilih Menjadi Penjual Balon, Alasannya Bikin Sedih
Merinding!! VIDEO Viral Pocong Rebahan Hadang Pengendara Mobil di Cipari Cilacap
Viral Wanita Cantik Penjual Rujak, Pria Beli 3 Kali dalam Sehari