Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Skripsi Teknik Industri ANALISIS LOGISTIK DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP CHANNEL DISTRIBUTION


ANALISIS LOGISTIK DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP CHANNEL DISTRIBUTION








1.1.       Latar Belakang Masalah

Persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk menyusun kembali strategi dan bisnisnya sehari-hari, terutama pada bagaimana sebuah perusahaan dapat mengelola persediaan dan pengiriman produk secara lebih berkualitas dan lebih cepat dengan perusahaan lain. Usaha untuk menciptakan rangkaian proses bukanlah merupakan target sesaat, melainkan sifatnya dinamis, dalam arti harus selalu diupayakan secara terus-menerus dan berkesinambungan. Sejauh perusahaan masih bisa berusaha memperbaiki kinerjanya, sejauh itu pulalah perusahaan dapat tetap bertahan dalam ketatnya persaingan industri.
Semua perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur pada umumnya bertujuan untuk mendapatkan laba yang maksimal dan menekan perusahaan agar perusahaan tetap kompetitif. Salah satu faktor yang memerlukan banyak biaya dalam memasarkan produk yaitu adanya manajemen logistik yang terdiri dari peramalan kebutuhan, pengadaan material, penyimpanan barang, pengendalian persediaan, distribusi atau transportasi melalui penghubung antara produsen-produsen (distributor), penghubung antara produsen ke retailer (wholesaler) dan penghubung antara produsen ke konsumen (retailer).
Karena ketatnya persaingan dan berubahnya lingkungan bisnis akhir-akhir ini menuntut adanya model baru dalam mengelola aliran produk atau informasi terutama pada pemasaran produk, yang merupakan modifikasi metode sebelumnya (manajemen logistik), yaitu Channel Distribution atau Supply Chain Management (Zabidi, 2001:6)
PT. Indostationery Ritel Utama (ISRU) berdiri sejak tahun 1992  merupakan perusahaan yang bergerak dibidang distributor stationery, seperti alat-alat kantor dan alat-alat tulis sekolah bekerja sama dengan Toko Buku Gramedia. Produk yang pertama kali di distribusikan adalah merk Rotring seperti penggaris, kaca pembesar, pulpen dan alat-alat arsitektur.
Semakin pesatnya perkembangan arsitektur pada zaman orde baru membuat PT. ISRU membuka 3 cabang stationery dalam setahun. Produk-produk yang di distirbusikan semakin bervariasi dan menarik sesuai dengan kebutuhan pelajar dan mahasiswa pada saat itu. Hingga saat ini PT. ISRU telah memiliki 26 cabang stationery di dalam dan luar kota. Dalam kegiatan distribusinya PT. Indostationery tidak terlepas dari kegiatan logistik. Adapun kegiatan logistik mencakup seluruh aliran bahan dan juga informasi perusahaan. Salah satu permasalahan yang ada diperusahaan ini yaitu terkait dengan persediaan produknya.
Tabel 1.1 Data Kebutuhan Odner Cabang Bulan Agustus 2015-Juli 2016

No
Bulan Pembelian
Jumlah Odner (unit)
PIM
Gandaria
 1
 Agustus
150
130
 2
 September
225
195
 3
 Oktober
180
150
 4
 November
215
190
 5
 Desember
230
210
 6
 Januari
240
220
 7
 Februari
215
195
 8
 Maret
205
185
 9
 April
200
178
 10
 Mei
185
160
11
Juni
160
170
12
Juli
168
155

Jumlah
2373
2138
(Sumber: PT. Indostationery Ritel Utama)
Persediaan Odner yang minim bisa mengakibatkan proses perputaran barang terhambat dan menimbulkan antrian pesanan yang panjang dari retailer. Begitu pula sebaliknya, jika terlalu berlebihan  maka terjadi sebuah penumpukan bahan baku di gudang yang menambah biaya penyimpanan. Maka dari itu sangat diperlukan metode yang mampu mengendalikan persediaan barang guna melancarkan perputaran barang secara berkelanjutan.
Dari latar belakang masalah tersebut penulis akan mengambil tema Tugas Akhir ini dengan judul: ANALISIS LOGISTIK DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP CHANNEL DISTRIBUTION DI PT. INDOSTATIONERY RITEL UTAMA.









1.2.       Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.    Berapa jumlah persediaan yang seharusnya disediakan oleh PT. ISRU?
2.    Berapa jumlah safety stock yang dibutuhkan pada retailer?
3.    Berapa biaya persediaan yang seharusnya dikeluarkan PT. ISRU dan retailer?

1.3.       Pembatasan Masalah

Supaya masalah yang dibahas tidak keluar dari topik yang akan dibahas, maka batasan permasalahan dalam penelitian ini adalah:
1.    Dalam penelitian ini, penulis hanya menitikberatkan pada sektor hilir yakni hubungan antara perusahaan dan retailer.
2.    Penulis meneliti mengenai masalah persediaan barang.
3.    Produk yang diteliti hanya satu jenis, yaitu Odner merk Bantex.
4.    Tingkat pelayanan pada setiap retailer telah ditetapkan manajemen sebesar 95%

1.4.       Tujuan Penelitian

Pada penulisan proposal tugas akhir ini, tujuan dilakukannya penelitian adalah:
1.    Untuk mengetahui kebutuhan persediaan barang pada tahun 2017.
2.    Untuk mengetahui seberapa besar jumlah safety stock yang di sediakan PT. ISRU terhadap retailer dan mendapatkan perbandingan total cost sistem antara sebelum dengan sesudah koordinasi antar channel distribution.

1.5.       Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah:
1.    Bagi Penulis
Sebagai sarana penerapan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama menjalani perkuliahan jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Pamulang.
2.    Bagi Perusahaan
Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan jumlah persediaan produk pada masa sekarang ini dengan menggunakan konsep Channel Distribution, sehingga persediaan barang terpenuhi sesuai permintaan retailer.
3.    Bagi Pihak Lain
Dengan adanya konsep Channel Distribution ini diharapkan dapat menjadi penambahan wawasan dan bahan referensi terutama mengenai persediaan stock barang.



Download Word Skripsi






1.6.       Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I   : PENDAHULUAN
Berisi tentang uraian latar belakang masalah, perumusan masalah, pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II : LANDASAN TEORI
Berisi landasan teori yang berhubungan dengan dengan penelitian ini serta dalam bab ini dimuat kerangka pemikiran yang menggambarkan pola pikir dan sistematika pelaksanaan penelitian.

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisikan langkah-langkah sistematika yang dilakukan dalam penelitian yaitu pengumpulan data, analisis dan pengolahan terhadap masalah serta dilengkapi dengan diagram network planning pemecah masalah.
BAB IV: HASIL DAN PENELITIAN
Berisi gambaran atau deskripsi objek yang diteliti, analisis data yang diperoleh, dan pembahasan tentang hasil dan analisis.
BAB V  : KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi kesimpulan tentang analisis data dan pembahasan, serta saran yang dapat diberikan kepada pembaca dan perusahaan.


BAB II

LANDASAN TEORI


2.1.       Penelitian Terdahulu

Beberapa data penelitian terdahulu mengenai analisis logistik dengan menggunakan konsep Channel Distribution adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Beberapa Data Penelitian Terdahulu mengenai analisis Logistik dengan Menggunakan Konsep Channel Distribution

NO
Nama
peneliti
Tahun
Judul
Penelitian
Hasil
Persamaan
Perbedaan
1
Gunawan
2014
Pengem-bangan Model Rantai Pasok Pisang Mas di Lumajang dan Malang
Sensitivitas perubahan harga jual terhadap permintaan yaitu permintaan akan berubah seiring peningkatan atau penurunan harga jual
Data yang diteliti oleh jurnal dan penulis frekuensi-nya sama 1 tahun
Bahan baku yang diteliti oleh jurnal dan penulis berbeda, jurnal meneliti pisang sedangkan penulis meneliti odner
2
Astuti
2015
Kebutuhan dan Struktur Kelembaga-an Rantai Pasok Buah Manggis Studi Kasus Rantai Pasok di Kabupaten Bogor
Ketersediaan modal dan ketersediaan teknologi akan saling mendukung untuk memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas dalam rantai pasok yang baru terbentuk di Kabupaten Bogor
Data yang diteliti oleh jurnal dan penulis frekuensi-nya sama 1 tahun
Bahan baku yang diteliti oleh jurnal dan penulis berbeda, jurnal meneliti buah manggis sedangkan penulis meneliti odner
(Sumber: Pengolahan Data Jurnal dan Skripsi Terbuka)




Tabel 2.1 Beberapa Data Penelitian Terdahulu mengenai analisis Logistik dengan Menggunakan Konsep Channel Distribution(Lanjutan)

NO
Nama
peneliti
Tahun
Judul
penelitian
Hasil
Persamaan
Perbedaan
3
Mutiara Simbar, Theodora M. Katiandagh, Tommy F Lolowang, dan Jenny Baroleh
2014
Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kayu Cempaka Pada  Industri Mebel UD. Batu Zaman Dengan Mengguna-kan Metode Economic Order Quantity
Tahun 2013 menurut EOQ pembelian bahan baku 4,448 m³, frekuensi pemesanan 2 kali, safety stock 0,24 m³, reorder point 0,603 m³, total biaya persediaan Rp 881.670. Menurut perhitungan pabrik pembelian bahan baku 2,3375 m³, frekuensi pemesanan 4 kali, total biaya persediaan Rp. 1.335.000.
Data yang diteliti oleh jurnal dan penulis frekuensi-nya sama 1 tahun.


Bahan baku yang diteliti oleh jurnal dan penulis berbeda, jurnal meneliti kayu sedangkan  penulis meneliti odner.


4
Deny Utomo
2013
Strategi Pendekatan Supply Chain Management Pada Proses Produksi dan Saluran Distribusi Terhadap Agroindustri Mangga di Probolinggo
Faktor keberhasilan SCM pada proses produksi dan saluran distribusi berpengaruh positif dan signifikan terhadap agroindustri mangga
Data yang diteliti oleh jurnal dan penulis frekuensi-nya sama 1 tahun
Bahan baku yang diteliti oleh jurnal dan penulis berbeda, jurnal meneliti buah mangga sedangkan penulis meneliti odner
(Sumber: Pengolahan Data Jurnal dan Skripsi Terbuka)


Tabel 2.1 Beberapa Data Penelitian Terdahulu mengenai analisis Logistik dengan Menggunakan Konsep Channel Distribution Penelitian Terdahulu (Lanjutan)

NO
Nama
peneliti
Tahun
Judul
penelitian
Hasil
Persamaan
Perbedaan
5
Juliana Puspika dan Desi Anita
2013
Inventory Control dan Perencana-an Persediaan Bahan Baku Produksi Roti pada Pabrik Roti Bobo Pekanbaru
Tahun 2010 total biaya persediaan dengan metode EOQ Rp1.056.177,90 menurut hitungan pabrik Rp3.059.186,25. Tahun 2011 total biaya persediaan dengan metode EOQ Rp1.328.092,71  menurut hitungan pabrik Rp3.873.605,20. Tahun 2012 dengan metode EOQ, total biaya persediaan Rp Rp1.620.617,17. Total biaya persediaan pabrik Rp5.226.665,60.
Penelitian antara jurnal dan penulis mengguna-kan metode EOQ.
1. Penelitian jurnal mengguna-kan data selama 3 tahun, penelitian penulis mengguna-kan data selama 1 tahun.
2. Bahan baku yang diteliti oleh jurnal dan penulis berbeda, jurnal meneliti roti sedangkan penulis meneliti odner.


6
MaftahatHakimah, Rani Rotul Muhima, Anna Yustina
2015
Rancang Bangun Aplikasi Peramalan Persediaan Barang dengan Mengguna-kan Trend Projections
Dari hasil pengujian sistem yang dikenakan pada 5 data data penjualan diperoleh tingkat akurasi sistem sebesar 86%.
Data yang diteliti oleh jurnal dan penulis frekuensi-nya sama 1 tahun
Peneliti jurnal menggunkan metode Exponential Smoothing untuk melakukan peramalan.     


(Sumber: Pengolahan Data Jurnal dan Skripsi Terbuka)
Tabel 2.1 Beberapa Data Penelitian Terdahulu mengenai analisis Logistik dengan Menggunakan Konsep Channel Distribution Penelitian Terdahulu (Lanjutan)

NO
Nama
peneliti
Tahun
Judul
penelitian
Hasil
Persamaan
Perbedaan
7
Muhammad Ikhsan Fauzi
2014
Perancangan aplikasi peramalan dan persediaan obat-obatan menggunakan metode Least Square
Verifikasi peramalan sedemikian rupa sehingga mencerminkan data masa lalu dan sistem penyebab yang mendasari permintaan tersebut. Sepanjang representasi peramalan tersebut dapat dipercaya, hasil peramalan dapat terus digunakan.
Data yang diteliti oleh jurnal dan penulis frekuensi-nya sama 1 tahun
Bahan baku yang diteliti oleh jurnal dan penulis berbeda, jurnal meneliti obat sedangkan penulis meneliti odner.


(Sumber: Pengolahan Data Jurnal dan Skripsi Terbuka)


2.2 Channel Distribution

Channel distribution adalah hubungan timbal balik antara penyedia dan pelanggan untuk menyampaikan nilai-nilai yang sangat optimal kepada pelanggan dengan biaya yang cukup rendah namun memberikan keuntungan secara menyeluruh (Christopher, 2011:4). Fokus dari Channel Distribution adalah manajemen hubungan untuk menciptakan hasil dan keuntungan optimal bagi seluruh pihak yang terdapat dalam mata rantai Channel Distribution. Inovasi bisnis yang semakin berkembang dewasa ini menggambarkan Channel Distribution secara lebih luas lagi dari sekedar mata rantai tapi juga sebagai sebuah jaringan. Aitken dalam Ballou (2004:6) Channel Distribution adalah jaringan dari organisasi-organisasi yang saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain dan mereka bekerjasama untuk mengatur, mengawasi dan meningkatkan arus komoditi dan informasi semenjak dari tititk supplier hingga ke end user.
Menurut Heyzer dan Render (2011:451), Channel Distribution yang mengikuti konsep Channel Distribution yang benar dan baik akan dapat memberikan dampak peningkatan keunggulan kompetitif terhadap produk maupun pada sistem rantai pasokan yang dibangun perusahaan tersebut. Lebih lanjut Heyzer dan Render (2011:453) menyatakan bahwa, perusahaan perlu mempertimbangkan masalah rantai pasokan untuk memastikan bahwa rantai pasokan mendukung strategi perusahaan. Hal tersebut didukung oleh pendapat Chopra and Meindl (2007:7) bahwa, desain rantai pasokan, perencanaan, dan keputusan operasi memberikan peranan yang penting dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah organisasi.
Kegiatan-kegiatan ini mencangkup fungsi pembelian tradisional ditambah kegiatan penting lainnya yang berhubungan antara pemasok dengan distributor. Channel Distribution bisa meliputi penetapan seperti pada Gambar 2.1
·      Informasi Penjadwalan
·      Arus Kas
·      Arus Pesanan
 



Perusahaan
Persediaan
Pemasok
                                                                                                                      
Distributor
Konsumen
·      Arus Kredit
·      Arus Bahan Baku
 




Gambar 2.1 Channel Distribution
(Sumber: Siagian, 2005:6)

Mentzer dalam Christhoper (2011:3) mendefiniskan Channel Distribution sebagai strategi manajemen dari seluruh fungsi bisnis yang meliputi beberapa aliran, hulu atau hilir, untuk beberapa aspek pada sistem rantai pasokan. Channel Distribution meliputi seluruh fungsi bisnis yang dikoordinasikan di dalam perusahaan dan perusahaan lain yang terdapat pada rantai pasokan. Heizer dan Render (2011:457) menambahkan bahwa Channel Distribution sebagai pengintegrasian aktivitas pengadaan bahan dan pelayanan, pengubahan menjadi barang setengah jadi dan produk akhir, serta pengiriman ke pelanggan. Seluruh aktivitas ini mencakup aktivitas pembelian dan outsourcing, ditambah fungsi lain yang penting bagi hubungan antara pemasok dan distributor.
Channel Distribution sebenarnya sudah dikenal sejak beberapa tahun yang lalu dan terintegrasi dengan logistik. Channel Distribution menegaskan interaksi antar fungsi pemasaran, produksi pada suatu perusahaan. Memanfaatkan kesempatan untuk meningkatkan pelayanan dan penurunan biaya dapat dilakukan melalui koordinasi dan kerjasama antara pengadaan bahan baku dan pendistribisiannya. Hal ini terkait dengan kegiatan rantai pasokan yang secara tidak langsung terkontrol dari kegiatan logistik. Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa perusahaan besar maupun kecil pasti melakukan kegiatan logistik, baik logistik di dalam perusahaan maupun di luar perusahaan. Saluran persediaan bahan baku sampai penyaluran barang jadi, sangat membutuhkan logistik (Siagian, 2005:6).
Chopra dan Meindl (2007:6) menyatakan bahwa Channel Distribution melibatkan seluruh bagian, baik secara langsung atau tidak langsung, untuk memenuhi permintaan konsumen. Rantai pasokan tidak hanya berkaitan dengan manufaktur dan pemasok, tetapi juga melibatkan transportasi, gudang, retailer, dan pelanggan itu sendiri. Tujuan dari Channel Distribution adalah memaksimalkan keseluruhan nilai.
            Menurut Chopra dan Meindl (2007:4), rantai pasokan menimbulkan gambaran atas pergerakan produk atau pasokan dari supplier kepada pembuat produk, distributor, pengecer, pelanggan sepanjang rantai. Rantai pasokan biasanya melibatkan variasi dari tahapan, tahapan ini meliputi: 1) Pelanggan (Customer), 2) Pengecer (Retailer), 3) Distributor, 4) Pembuat produk (Manufacturer), 5) Komponen atau supplier bahan baku (Supplier). Tahapan Channel Distribution seperti pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2 Tahapan Channel distribution
(Sumber: Chopra dan Meindl, 2007)

            Lee & Whang dalam Anatan dan Ellitan (2008:46) Channel Distribution sebagai integrasi proses bisnis dari pengguna akhir melalui pemasok memberikan produk, jas, informasi, dan bahkan peningkatan nilai untuk konsumen dan karyawan. Melalui Channel Distribution, perusahaan dapat membangun kerjasama melalui penciptaan jaringan kerja (network) yang terkordinasi dalam penyediaan barang maupun jasa bagi konsumen secara efisien.

2.2.1 Konsep Channel Distribution
Channel Distribution menekankan pada penekanan lebih pada bagaimana perusahaan memenuhi permintaan konsumen tidak hanya sekedar menyediakan barang. Channel Distribution merupakan proses penciptaan nilai tambah barang dan jasa yang berfokus pada efisiensi dan efektifitas dari persediaan, aliran kas dan aliran informasi. Aliran informasi merupakan aliran terpenting dalam pengelolaan rantai pasokan kareana dengan adanya informasi maka pihak pemasok dapat menjamin ketersediaan material lebih tepat waktu, memenuhi permintaan konsumen lebih tepat waktu, memenuhi permintaan konsumen lebih cepat dengan kuantitas yang tepat sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan kinerja rantai pasok secara keseluruhan (Anatan dan Ellitan, 2008:98).
Tujuan utama membangun Channel Distribution untuk memperkuat hubungan baik antara manufaktur dengan pemasok dan saluran distribusinya. Artinya manufaktur perlu menyertakan mereka baik dalam resiko ataupun peluang bisnis dengan pembagian responbility sebagai sesama produsen. Maka dengan Channel Distribution perusahaan akan lebih responsif dan kapabilitasnya memungkinkan untuk memenuhi permintaan konsumen. Channel Distribution tidak dapat berjalan secara terpisah, tetapi harus merupakan suaatu kesatuan sehingga akan menghasilkan sinergi. Rantai pasokan yang terpenting adalah saling berbagi informasi, oleh karena itu dalam aliran material, aliran informasi merupakan keseluruhan elemen dalam Channel Distribution yang perlu di integrasikan (Anatan dan Ellitan, 2008:98).

2.2.2    Strategi Channel Distribution
Strategi Channel Distribution diperlukan untuk membantu pencapaian tujuan perusahaan yang diiginkan dalam strategi perusahaan. Inovasi terhadap pendekatan-pendekatan strategi Channel Distribution akan membuat perusahaaan dapat unggul dalam bersaing. Perencanaan strategi Channel Distribution diperlukan beberapa sumber-sumber pengambilan keputusan. Suatu perspektif strategi untuk sumber dari dalam dan dari luar perusahaan bertujuan agar mampu bersaing berdasarkan differensiaasi produk atau fokus. Unsur-unsur pembuatan strategi Channel Distribution menurut Sisilan dan Satir dalam Siagian (2005:20) terdiri dari faktor primer (keunggulan bersaing, fleksibilitas permintaan) dan faktor sekunder (kapabilitas proses, batas waktu proses, dan risiko strategi):
a. Faktor Primer
1.      Keunggulan Bersaing
Secara umum keunggulan bersaing dapat diperoleh melalui diferensiasi produk, kepeloporan biaya (berusaha meminimalisasi biaya tanpa mengurangi nilai dan kualitas produk), respon yang cepat dimana ditandai dengan sifat fleksibel, reliabel, dan cepat tanggap terhadap perubahan perubahan.
2.      Fleksibilitas Permintaan
Fleksibilitas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu produk itu sendiri, campuran produk, volume, dan tipe pengantaran. Pengukuran dan fleksibilitas dapat dilihat dari ketepatan pengantaran dan peramalan permintaan yang tepat.
b. Faktor Sekunder
1.      Kapabilitas proses
Faktor kapabilitas berkaitan dengan sejauh mana perusahaan dapat menjalankan aktivitas-aktivitas yang dibutuhkan dan sangat tergantung pada tipe kegiatan.
2.      Kematangan proses
Faktor kematangan proses sangat berkaitan dengan tingkat kinerja proses, bagaimana proses ini dapat tanggap dan memenuhi penawaran pasar.
3.      Risiko strategi
Risiko strategi mencakup penyebaran risiko, yaitu risiko yang diterima perusahaan akibat adanya kebocoran informasi tentang produk dan layanannya, baik itu yang diterima atau diberikan pemasok, sehingga pesaing dapat mengetahui strategi-strategi perusahaan.
Strategi operasional dalam Channel Distribution lebih dikenal dengan strategi supply chain. Strategi ini didefinisikan sebagai kumpulan kegiatan dan aksi strategis di sepanjang supply chain yang menciptakan rekonsiliasi antara apa yang dibutuhkan pelanggan akhir dengan kemampuan sumber daya yang ada pada supply chain, Pujawan dalam Anatan dan Ellitan (2008:65). Strategi supply chain mengarah pada perencanaan jangka panjang untuk menciptakan produk yang murah, berkualitas, tepat waktu, bervariasi, dan mendukung supply chain untuk mencapai tujuan-tujuan strategis yang telah ditetapkan. Tujuan dapat dicapai dengan cara perusahaan harus harus memiliki kemampuan untuk beroperasi secara efisien, menciptakan kualitas produk yang tinggi, respon cepat terhadap kebutuhan konsumen, fleksibel, dan inovatif dalam merespon perubahan yang terjadi dalam perusahaan.

2.2.3    Perencanaan Channel Distribution
Menurut Siagian (2005:23), penerapan Channel Distribution terdiri dari 6 topik, yaitu tingkatan perencanan, luasnya daerah perencanan, tujuan pelayaanaan konsumen, strategi fasilitas lokasi, keputusan persediaan, dan strategi transportasi.


a. Tingkat Perencanaan
Perencanaaan Channel Distribution bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang apa, kapan, bagaimana, hal tersebut berlangsung pada tiga tingkatan, yaitu strategis, taktikal, dan operasional. Perencanaan strategis, digolongkan sebagai rencana jangka panjang logistik, dimana waktu yang dibutuhkan lebih dari satu tahun. Perencanaan ini biasanya berhubungan dengan kebijakan-kebijakan dalam menjalankan perusahaan. Perencanaan taktis, merupakan perencanaan logistik jangka menengah, biasanya berlaku pada jangka waktu menengah yang tidak terlalu lama, kurang dari satu tahun. Perencanaan operasional, berorientasi pada kegiatan operasionaal logistik sehari–hari, sehingga jangka waktunya sangat pendek, bahkan bisa direncanakan secara harian atau jam. Setiap tingkatan perencanan mempunyai perspektif yang berbeda. Perencanaan strategis bersifat umum, karena data yang diperoleh untuk membuat perencanaan tersebut sering diperoleh dari data yang tidak lengkap dan akurat, sedangkan perencanaan operasional harus bersifat pasti, karena menggambarkan kegitan logistik per kegiatan, hal ini sangat mempengaruhi kegiatan logistik secara terperinci.
b. Luasnya Daerah Perencanaaan
Kegiatan logistik menyangkut empat keputusan penting, meliputi
1. Tingkat layanan kepada pelanggan
2. Lokasi fasilitas logistik, yaitu menentukan strategi logistik dapat berjalan lancar dan menjamin akan mendapatkan stock
3. Keputusan persediaan, berkaitan dengan persediaan yang dimiliki dan kecukupan stock barang
4. keputusan transportasi, yaitu memilih model transportasi yang akan digunakan. Hubungan keempat masalah tersebut, dapat digambarkan dalam segitiga pengambilan keputusan logistik, yakni pada Gambar 2.3
Gambar 2.3 Segitiga Pengambilan Keputusan Logistik
(Sumber: Siagian, 2005)

c. Tujuan Pelayanan Konsumen
Faktor berikut ini sangat berbeda dengan faktor lainnya, bagaimana usaha untuk memenuhi pelayanan konsumen sangat membutuhkan “seni”. Pada tingkat pelayanan jasa yang rendah pemutusan persediaan dapat dilakukan di beberapa tempat, akibatnya biaya menjadi lebih mahal. Tetapi, pada usaha dengan pelayanan jasa yang tinggi maka akan terjadi sebaliknya.
d. Stategi Fasilitas Lokasi
Perencanaan logistik terhadap fasilitas lokasi, sangat tergantung pada posisi geografis dari tempat penyimpanan dan tempat sumber daya. Menetapkan jumlah, lokasi, besarnya fasilitas, dan menentukan pasar yang dituju adalah cara penentuan produk yang tepat untuk dipasarkan. Menentukan biaya rendah atau mendapatkan keuntungan yang maksimal adalah tujuan dari perencanaan strategi fasilitas lokasi.
e. Keputusan Persediaan
Keputusan persediaan menunjukan tata cara bagaimana persediaan diatur. Kebijakan yang diambil perusahaaan biasanya mempengaruhi keputusan fasilitas lokasi, untuk itu kebijakan ini digolongkan sebagai strategi logistik.
f. Strategi Transportasi
Keputusan transportasi yang digunakan sangat bergantung pada mode, seperti ukuran pengiriman, rute pengiriman dan penjadwalan. Selain itu, untuk melihat problem perencanaan logistik dapat dilihat dari jaringan kerjanya. Jaringan tersebut menggambarkan pergerakan barang mulai dari  toko pengecer-gudang-pabrik atau vendor.

2.3 Manajemen Persediaan
Persediaan merupakan bahan atau barang yang disimpan untuk tujuan tertentu, antara lain untuk proses produksi, jika berupa bahan mentah maka akan diproses lebih lanjut, jika berupa komponen maka akan dijual kembali menjadi barang dagangan. Persediaan merupakan bagian yang terbesar dalaam penggunaan modal kerja perusahan dan merupakan aktiva yang selalu mengalami perubahan setiap saat. Persediaan juga menglami perputaran yang berbeda-beda, tinggi rendahnya perputaran akan berpengaruh langsung terhadap besar kecilnya dana yang ditawari atau dibutuhkan dalam persediaan tersebut (Siagian, 2005:161). Banyak perusahaan memiki nilai persediaan diatas 25% dari nilai seluruh aset yang dimiliki. Ini berarti modal tertahan dalam bentuk persediaan di suatu perusahaan bisa sangat signifikan.
            Pembelian item berulang sering diadakan sebagai strategi persediaan. Dengan demikian, kebijakan persediaan memiliki pengaruh yang besar terhadap keputusan pembelian kuantitas. Beberapa pertanyaan banyak untuk memesan, kapan, dan berapa banyak untuk dibawa dalam saham adalah keputusan kunci dikenakan pemeriksaan perbaikan terus-menerus bersama dengan fokus pada kualitas dan pelanggan, karyawan, dan kepuasan pemasok. Penting dalam membuat pengiriman, persediaan, atau keputusan ukuran pesanan pembelian untuk memahami mengapa persediaan ada dan apa trade-off yang relevan (Lenders, Fearon, Flynn, dan johnson, 2002:200). Semakin tinggi perputaran persediaan berarti semakin pendek waktu yang dibutuhkan dalam persediaan, sehingga kebutuhan dan relatif lebih kecil dan sebaliknya semakin lamban perputaran persediaan akan semakin lama waktu yang dibutuhkan dalam persediaan, sehingga kebutuhan dana untuk persediaan relatif besar.

2.3.1 Fungsi Persediaan
            Persediaan memiliki berbagai fungsi penting menambah fleksibilitas dari operasi suatu perusahaan. Fungsi dasar persediaan sebenarnya sangat sederhana, yaitu meningkatkan profability perusahaan. Persediaan kebijakan perushaan yang aman adalah memiliki persediaan dalam jumlah banyak, tetapi ternyata hal ini akan menyebabkan tingginya biaya untuk penyimpanan dan pembelian bahan atau barang yang bersangkutan, sedangkan kelebihan persediaan juga akan menyebabkan banyaknya dana yang terserap dalam persediaan sehingga tidak efisien. Sebaliknya, bila persediaan terlalu sedikit akan berisiko kekurangan bahan atau barang dan akan menggangu kelancaran proses produksi, selain itu juga biaya pembelian dan biaya persediaan juga semakin besar. Selain fungsi dasar persediaan, ada beberapa fungsi persediaan yang lainnya, yaitu:
1.      Fungsi pemisahan wilayah, merupakan spesialisasi ekonomis antara unit pembuatan (manufacturing) dan unit distribusi yang dibagikan dalam wilayah-wilayah yang ditangani.
2.      Fungsi decoupling, merupakan fungsi suatu produk yang di proses dan didistribusikan dalam ukuran yang ekonomis.
3.      Fungsi penyeimbang dengan permintaan, Persediaan berfungsi untuk menyeimbangkan kebutuhan konsumsi dengan produksi, agar kebutuhan konsumsi dapat dipenuhi dengan lancar dari proses produksi yang dilakukan. Sifat permintaan dapat bersifat stabil dan musiman.
4.      Fungsi penyangga (buffer stock). Persediaan memiliki fungsi sebagai penyangga agar proses produksi berjalan lancar tanpa hambatan. Fungsi penyangga dilaksanakan dengan menetapkan persediaan pengaman (safety stock).

2.3.2 Jenis-Jenis Persediaan
            Secara umum, persediaan dapat dibedakan dari beberapa jenis, antara lain sebagai berikut.
1.      Persediaan bahan baku atau yang disebut juga persediaan bahan mentah, yaitu bahan atau barang yang akan di proses lebih lanjut menjadi barang jadi. Bahan mentah dapat digunakan pada proses produksi untuk pemasok yang berbeda
2.      Persediaan barang dalam proses, merupakan persediaan yang telah mengalami perubahan, tetapi belum selesai
3.      Supplies inventory adalah persediaan yang berfungsi sebagai penunjang dalam proses operasi atau produksi agar berjaalan lancar.
4.      Persediaan barang dagangan, merupakan persediaan yang akan dijual kembali sebagai barang dagangan.
5.      Persedian barang jadi, merupakan yang dipenuhi dari hasil operasi atau produksi yang sudah selesai dan masih disimpan di gudang perusahaan.

2.3.3 Biaya-Biaya Persediaan
            Tujuan dari kebanyakan model persediaan adalah untuk meminimlkan biaya total secara keseluruhan. Dalam menetapkan kebijakan persediaan, biaya-biaya yang ditimbulkannya dapat diklasifikasikan menjadi beberapa biaya. Biaya-biaya tersebut akan menjadi pertimbangan dalam menentukan jumlah persediaan, yang sifatnya saling berlawanan, antra lain:
1.      Biaya simpan, biaya untuk menyimpan/menjaga atau merawat persedian.
2.      Biaya pesan, biaya yang timbul selama proses pemesanan, misalnya biaya administrasi pemesanan, biaya proses pesan, biaya bongkar muatan dan sebagainya.
3.      Biaya penyiapan, biaya yang timbul untuk menyiapkan mesin atau proses untuk produksi jika barang/komponen yang diperlukan diproduksi sendiri oleh perusahaan.
4.      Biaya kehabisan bahan, biaya yang timbul jika terjadi kehabisan bahan.

2.3.4 Mengelola Persediaan pada Channel Distribution
            Mengelola persediaan melibatkan berbagai jenis masalah. Karena mengelola persediaan tidak dapat ditangani dengan menggunakan metode solusi tunggal, kita perlu mengkategorikan metode dalam beberapa kelompok jurusan. Manajemen persediaan menggunakan just-in-time metode tidak akan dimasukkan dalam pengelompokan ini. dengan metode manajemen persediaan yang tersisa, kami asumsi bahwa kondisi tingkat permintaan dan variabilitas, lead time dan variabilitas, dan biaya persediaan terkait diketahui, dan bahwa kita harus melakukan yang terbaik pengendalian persediaan pekerjaan, mengingat kondisi ini. Sebaliknya, just-in-time philosopy (supply langsung untuk menuntut seperti itu terjadi) adalah untuk elliminate persediaan dengan mengurangi variabilitas permintaan dan siklus pengisian waktu, mengurangi ukuran lot, dan menjalin hubungan yang kuat dengan sejumlah pemasok untuk memastikan produk berkualitas dan ketertiban mengisi akurat (Ballou, 2004:331).

2.4 Peramalan
            Peramalan dalam bidang produksi merupakan suatu estimasi terhadap tingkat kebutuhan akan satu atau beberapa periode waktu di masa akan datang. Peramalan merupakan alat pendukung dalam proses pengambilan keputusan.
            Peramalan dikelompokan atas beberapa bagian antara lain :
1.      Menurut sifat penyusunannya
a.       Peramalan Subjektif, yaitu peramalan yang didasarkan atas perasaan atas intuisi dari orang yang menyusunnya. Pandanga orang yang menyusunnya sangat menentukan baik tidaknya hasil peramalan tersebut.
b.      Peramalan Objektif, yaitu permalan yang didasarkan atas data masa lalu yang relevan dengan menggunakan teknik-teknik dan metode-metode dalam penganalisisannya.
2.      Menurut horizon waktunya
a.       Peramalan jangka pendek, yaitu peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan jangka waktunya satu tahun atau kurang.
b.      Peramalan jangka menengah, yaitu peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya satu hingga lima tahun kedepan.
c.       Peramalan jangka panjang, yaitu peramalan yang dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya lebih dari lima tahun.
Secara umum, metode peramalan dikelompokan atas dua bagian, yaitu :
1.      Metode Peramalan Kualitatif
Peramalan kualitatif tidak menggunakan perhitungan matematis atau perhitungan secara statistik. Peeramalan kualitatif pada umumnya bersifat subjektif dan dipengaruhi oleh intuisi, emosi, pendidikan dan pengalaman seseorang.
Metode kualitatif terdiri atas beberapa teknik, anatara lain :
a.       Juri Opini Eksekutif
Metode ini merupakan metode peramalan paling sederhana dan paling banyak digunakan. Metode ini mendasarkan pada pendapat dari sekelompk kecil eksekutif tingkat atas, misalnya manajer dari bagian pemasaran, roduksi, teknik dan keuangan yang secara bersama-sama mendiskusikan dan memutuskan ramalan suatu variabel pada periode yang akan datang.
b.      Metode Delphi
Metode ini menggunakan serangkaian kuisioner yang disebarkan kepada responden. Jawaban responden diringkas dan diserahkan kepada panel ahli untuk dibuat perkiraannya.
c.       Gabungan Tenaga Penjualan
Metode ini banyak digunakan, karena tenaga penjualannya merupakan sumber  informasi yang baik mengenai perrmintaan konsumen. Setiap tenaga penjual meramalkan tingkat penjualan di daerahnya, yang kemudian digabung pada tingkat propinsi dan seterusnya sampai tingkat nasional atau internasional untuk mencapai peramalan menyeluruh.
d.      Survey Pasar
Survey dapat dilakukan dengan kuisioner, telepon atau wawancara. Survey dilakukan terhadap konsumen atau konsumen potensial untuk mengetahui rencana pembelian produk pada periode yang diamati.
2.      Metode Peramalan Kuantitatif
Metode peramalan kuantitatif adalah metode peramalan yang didasarkan pada data kuantitatif masa lalu. Hasil peramalan yang dibuat sangat bergantung kepada metode peramalan yang digunakan. Metode yang baik akan memberikan hasil peramal yang baik dengan hasil penyimpangan (error) yang terkecil.
Persyaratan penggunaan metode peramalan kuantitatif adalah :
a.       Tersedia informasi masa lalu
b.      Informasi masa lalu dapat dikuantifikasi dalam bentuk data numeric
c.       Diasumsikan pola data berlanjut untuk masa yang akan datang.
            Ada dua kelompok besar metode kuantitatif, yaitu metode Time Series dan metode Non Time Series. Metode time series adalah metode yang dipergunakan untuk menganalisa serangkaian data yang merupakan fungsi dan waktu. Metode ini mengasumsikan beberapa pola selalu berulang sepanjang waktu. Analisis deret waktu menunjukan bagaimana permintaan terhadap suatu produk bervariasi terhadap waktu. Sifat dari perubahan permintaan dari taun ke tahun dirumuskan untuk meramkan pen jualan masa yang akan datang. Secara umum pola permintaan dibagi atas empat jenis, antara lain :
a.       Trend atau Kecenderungan
Trend merupakan sifat dari permintaan dimasa lalu terhadap waktu terjadinya bila ada kenaikan atau penurunan dari data observasi jangka panjang. Pola trend dipakai untuk meramalkan biaya-biaya yang termasuk didalam biaya operasi karena biaya akan cenderung naik jika mesin dan peralatan semakin tua atau semakin lama.
Gambar 2.4 Pola Trend

b.      Siklus
Digunakan bila data dipengaruhi oleh fluktuasi jangka panjang atau memiliki siklus yang berulang secara periodik. Pola siklis dipaki untuk permalan jangka menengah akibat pengaruh dari penjualan produk yang memiliki siklus naik turun karena pergerakan ekonomi.
Gambar 2.5 Pola Siklis

c.       Musiman (Seasonal)
Pola ini digunakan bila suatu deret waktu dipengaruhi oleh faktor musim (seperti mingguan, bulanan dan harian). Pola musiman dipakai untuk melakukan peramalan jangka pendek.
d.      Horizontal
Pola ini dipakai bilai nilai-nilai dari data observasi berfluktuasi disekitar nilai konstan rata-rata. Dengan demikian dapat dikatakan pola ini sebagai stationary pada rata-rata hitungannya. Misalnya, pola ini terdapat bila suatu produk mempunyai jumlah penjualan yang tidak menaik atau menurun selama beberapa periode waktu.
e.       Diagram Pencar
Diagram ini digunakan untuk melihat kolerasi (hubungan) dari suatu faktor penyebab yang berkesinambungan terhadap suatu karakteristik kualitas hasil kerja. Pada umumnya apabila membicarakan tentang hubungan antara dua jenis data, sesungguhnya berbicara tentang hubungan sebab akibat, suatu hubungan antara satu dan lain sebab dan hubungan antara suatu sebab dengan sebab lain.
Langkah-langkah pembuatan diagram penc ar adalah sebagai berikut :
1.      Kumpulkan data-data yang hbingannya akan diteliti, masukan data-data tersebut dalam satu lembar data.
2.      Gambarkan sumbu grafik secara vertikal dan horizontal. Apabila hubungan antara dua macam data ini merupakan hubungan sebab akibat, maka sumbu vertikal biasanya akan menunjukan nilai kuantitatif dari akibat, sedangkan sumbu horizontal akan menunjukan nilai kuantitatif dari sebab.
3.      Plot data dalam grafik. Titik-titik data ini diperoleh dengan memtongkan nilai kuantitatif yang ada dari kedua sumbu vertikal dari horizontal. Apabila nilai data ternyata berulang dan jatuh pada titik yang sama, maka lingkari titik tersebut sesuai dengan frekuensi pengulangannya.

Gambar 2.6 Diagram pencar

            Metode peramalan time series secara umum digunakan untuk peramalan jangka pendek hingga menengah. Metode peramalan yang termasuk jenis time series  antara lain :
1.      Metode Penghalusan (Smoothing)
Metode smoothing digunakan untuk mengurangi ketidakteraturan musiman dari data masa lalu, dengan membuat rata-rata terrtimbang dari sederetan data masa lalu. Ketepataan metode peramalan ini cukup baik untuk peramlan jangka pendek, sedangkan untuk peramalan jangka panjang metode peramalan ini kurang akurat.
Metode smoothing terdiri atas beberapa jenis, antara lain :
a.       Metode rata-rata bergerak (Moving Average). Metode ini terdiri dari dua jenis, yaitu :
1.     Single Moving Average (SMA)
Moving Average pada suatu periode merupakan permalan untuk sstu peride ke depan dari periode rata-rata tersebut. Persoalan penggunaan metode ini adalah dalam menentukan nilai t (periode perata-rataaan). Semakinbesar nilai maka peramalan yang dihasilkan akan semakin menjauhi pola data.


Fungsi metode peramalan ini adalah :



Keterangan :
X1                     = data pengamatan periode t
N                = jumlah deret waktu yang digunakan
Ft+1                                = nilai peramalan periode t+1
2.      Linier Moving Average (LMA)
Dasar dari metode ini adalah penggunaan moving average kedua untuk memperoleh penyesuaian bentuk pola trend.
b.      Metode Exponential Smoothing, metode ini terdiri dari :
1.      Single Exponential Smoothing
Dasar dari metode ini adalah nilai ramalan pada periode t+1 merupakan nilai aktual pada periode t ditambah dengan penyesuaian yang berasal dari kesalahan niai ramalan yang terjadi pada periode t tersebut.


Fungsi peramalan Single Exponential Smoothing adalah :

     
Keterangan :
Xt     = data permintaan pada periode t
ɑ       = faktor pemulusan
Ft+1   = peramalan untuk periode t
2.      Double Exponential Smoothing
3.      Triple Exponential Smoothing
4.      Adaptive Exponential Smoothing
5.      Holt 2-Parameterrs Linier Exponential Smoothing
6.      Winter 3-Parameters Linier Exponential Smoothing
2.      Metode Proyeksi Kecenderungan dengan Regresi
Metode ini cuku baik digunakan untuk peramalan jangka pendek maupun jangka panjang. Semakin banyak data yang dimliki maka semakin baik hasil peramalan yang diperoleh.
Metode ini terdiri dari beberapa fungsi peramalan, antara lain :
a.       Konstan
Yt = a, dimana a =
b.      Linier
Yt = a + bt
Dimana : b =
ɑ =
c.       Kuadratis
Yt= a + bt + ct²
Dimana : ɑ =
b =
c =
y = (
δ =
θ =
α =
d.      Eksponensial
Yt = aeᵇᵗ
Dimana : ln ɑ =
 b =
e.       Siklis
Yt = ɑ + b.sin ) + c.cos(
Dimana :
= ɑ + c
∑(Ycos  
3.      Metode Dekomposisi
Metode dekomposisi merupakan pendekatan peramalan yang tertua. Ada beberapa pendekatan alternative untuk mendekomposisikan suatu deret berkala yang bertujuan untuk memisahkan setiap komponen deret data seteliti mungkin. Konsep dasar pemisahan bersifat empiris dan tetap yang mula-mula memisahkan unsur musiman, kemudian trend dan akhirnya unsur siklis.
4.      Metode Kausual
Metode kausual mengasumsikan faktor yang diperkirakan menunjukan adanya hubungan sebab akibat dengan satu atau beberapa variabel bebas. Sebagai contoh jumlah pendapatan berhubungan dengan faktor-faktor seperti harga jual, tingkat promosi dan jumlah penjualan. Kegunaan dari metode kausual adalah untuk menemukan bentuk hubungan antara variabel-variabel tersebut dan menggunakannya untuk meramalkan nilai dari variabel tidak bebas.
Kualitas hasil peramalan sangat ditentukan oleh proses pelaksanaan permalan tersebut. Peramalan yang baik dalah permalan yang dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah penyusunan yang baik. Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membuat peramalan dengan metode kuantitatif adalah :
1.      Penentuan Tujuan Peramalan
Tujuan peramalan biasanya adalah untuk mengetahui tingkat permintaan terhadap produk dalam jangka waktu tertentu.
2.      Identifikasi Pola Historis dari Data Aktual
Identifikasi pola historis dari data aktual dilakukan dengan membuat diagram pencar. Pembuatan diagram pencar dimaksudkan untuk mengetahui pola data historis. Ada empat model pola data historis yang umum terjadi. Pada peramalan menggunakan metode time series, yaitu :
a.       Pola Konstan
Pola konstan menunjukan nilai data yang berfluktuasi di sekitar nilai rata-rata.
b.      Pola Musiman
Pola musiman apabila suatu deret dipengaruhi oleh faktor musiman, misalnya bulanan, kuartalan.
c.       Pola Siklis
Terjadi apabila data dipengaruhi olh fluktuasi ekonomi jangka panjang.
d.      Pola Trend
Pola trend terjadi apabila terdapat kenaikan atau penurunan nilai dua secara kontinu dalam jangka panjang.
3.      Pemilihan fungsi peramalan (minimal dua fungsi) yang dianggap sesuai dengan pola data pada diagram pencar.
4.      Perhitungan parameter-parameter fungsi peramalan
5.      Perhitungan ketelitian masing-masing fungsi peramalan yang dipilih.
Ketelitian hasil peramalan diukur dari besar kecilnya kesalahan peramalan. Kesalahan yang kecil menandakan ketelitian hasil peramalan tinggi dan sebaliknya. Besar kesalahan suatu peramalan saat dihitung dengan bebearapa cara, antara lain :
a.       Mean Square Error (MSE)
Metode MSE memperkuat pengaruh angka-angka kesalahan, tetapi memperkecil angka kesalahan perkiraan yang lebih kecil dari satu unit.
Rumus menghitung MSE
MSE =


 



Keterangan :
Y  = data aktual periode t
Yt = nilai ramalan periode t
n   = banyaknya periode
b.     
Standard Error Of Estimate (SEE)



Keterangan :
f   = derajat kebebasan
n   = banyaknya periode
Y  = data aktual periode t
Yt = nilai ramalan periode t
c.       Percentage Error (Pet)
Pet =(

 



Keterangan :
Y  = data aktual periode t
Yt = nilai ramalan periode t    
Nilai PEt, positif atau negatif
d.      Mean Absolute Percentage Error (MAPE)
MAPE =


 


Keterangan :
Pet = percentage error
n    = banyaknya periode

2.5 Perhitungan Nilai Q
            Masalah persediaan merupakan hal yang penting dalam logistik. Karena persediaan sendiri menunjukan kemampuan perusahaan dalam memenuhi permintaan. Secara umum ada dua macam sisitem persediaan yang biasa dipakai yang satu sama lain bervariasi, yaitu:
1.      Sistem pemesanan ukuran tetap (fixed order size inventory system) atau sering disebut “Q system”.
2.      Sistem pemesanan interval tetap (fixed order interval inventory system) atau sering disebut “P system”.
Adapun ciri-ciri Q system adalah sebagai berikut:
a.       Jumlah bahan yang dipesan adalah selalu sama untuk setiap kali pemesanan yaitu sebesar lot ekonomis.
b.      Selang waktu pemesanan tidak tetap, bervariasi sesuai fluktuasi pemakaian bahan.
c.       Pemesanan dilakukan kembali apabila jumlah persediaan telah mencapai titik pemesanan kembali (reorder point)
d.      Titik pemesanann kembali besarnya sama dengan perkiraan pemakaian selama lead time ditambah dengan safety stock.
Adapun ciri-ciri P system adalah sebagai berikut:
a.       Jumlah bahan yang dipesan tidak tetap, tetapi tergantung pada jumlah persediaan yang ada pada pemesanan dilakukan.
b.      Selang waktu persediaan adalah tetap untuk setiap kali pemesanan dilakukan.
c.       Model P tidak mempunyai titik pemesanan kembali, tetapi lebih menekankan pada target persediaan.
d.      Model P tidak mempunyai nilai EOQ karena jumah pemesanan akan bervariasi tergantung permintaan yang sesuai dengan target persediaan.
            Pada tugas akhir ini, digunajkan sistem opersediaan “Q system” untuk memecahkan persoalan persediaan. Masalah pokok pengendalian inventory dengan menggunakan metode Q adalah penentuan jumlah pemesanan optimal dengan biaya minimum dan masalah titik pemesanan kemabali atau reorder point (ROP). Penentuan titik pemesanan kembali mencakup penentuan persediaan pengamanan (safety stock) dan kebutuhan selama lead time. Keadaan yang dihadapi adalah permintaan terhadap suatu item bersifat kontinu dengan tungkat yang seragam dengan lead time (tenggang waktu) tetap, perhitungan EOQ biasa tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut sehingga dibutuhkan perhitungan metode Q sesuai kondisi tersebut. Mencari harga Q optimal (Q*), yaitu:
a.       Tanpa koordinasi antar Supply Chain


 



Keterangan:
Q* = Jumlah pemesanan optimum
  = Ongkos pemesanan (Rp/pemesanan)
D   = Jumlah permintaan tiap periode (pcs)
h    = Ongkos simpanan
b.      Dengan koordinasi antar Supply Chain


 




Keterangan:
Q*  = Jumlah pemesanan optimum bagi perusahaan dan retailer
Cper = Ongkos/biaya tetap yang dikeluarkan perusahaan setia memenuhi pesanan pembeli
Cret = Ongkos/biaya pesan yang dikeluarkan retailer
D    = Jumlah permintaan (unit/tahun)
hper = Ongkos simpanan yang dikeluarkan perusahaan
hret  = Ongkos simpanan yang dikeluakan retailer

2.6 Reorder Point
ROP = d x 1 + SS



            Jika model EOQ yang diterapkan, maka faktor penting adalah lead time. Lead time adalah jarak waktu antara saat melakukan order hingga order datang. Adanya lead time membuat kita harus menentukan waktu pemesanan. Pada model EOQ lead time  diketahui dengan pasti. Namun pada kenyataannya, baik permintaan maupun lead time sama-sama tidak pasti. Oleh karena itu, waktu pemesanan suatu barang harus mempertimbangkan ketidakpastiaan pada sisi pasokan maupun permintaan, reorder point dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
           

Keterangan:
d   = Permintaan rata-rata per periode
l    = lead time
SS = Safety stock

2.7 Safety Stock
            Persediaan pengaman atau safety stock berfungsi untuk melindungu kesalahan dalam memprediksi permintaan selama lead time. Nilai sesungguhnya bisa lebih kecil atau lebih besar rata-rta permintaan tersebut. Besarnya safety stock (SS) secara umum dapat dirumuskan sebagai berikut:
SS = Z x sdl



 
             
Keterangan:
Sdl = Standar deviasi permintaan selama lead time
Z   = Nilai dibawah kurva normal yang ditentukan oleh service level
            Nilai Sdl bisa dicari dengan mengumpulkan langsung data permintaan selama lead time unuk satu periode yang cukup panjang atau diperoleh dengan terlebih dahulu mendapatkan data rata-rata dan standar deviasi dari dua komponen penyusunnya, yaitu permintaan per periode dan lead time. Dengan mempertimbangkan empat kondisi, masa sdl dapat dihitung dengan rumus:
1.      Safety stock ditentukan oleh ketidakpastian permintaan
Sdl = Sd x


 


2.     
Sdl =


Safety stock ditentukan oleh interaksi dua ketidakpastian


3.      Tidak diperlukan safety stock situasi deterministik
Sdl = 0


 


4.      Safety stock ditentukan oleh ketidakpastian lead time
Sdl = d x


 


Keterangan:
Sdl = Standar deviasi permintaan selama lead time
Sd  = Standar deviasi permintaan
Sl  = Standar deviasi  lead time
d   = Permintaan rata-rata                         l    = Lead time

2.8 Kerangka Pemikiran
Aitken dalam Ballou (2004:6) Channel Distribution adalah jaringan dari organisasi-organisasi yang saling berhubungan dan saling membutuhkan satu sama lain dan mereka bekerjasama untuk mengatur, mengawasi dan meningkatkan arus komoditi dan informasi semenjak dari tititk supplier hingga ke end user. Setiap perusahaan, baik jasa maupun manufaktur, selalu memerlukan persediaan, tanpa persediaan perusahaan akan dihadapkan pada risiko jika suatu ketika tidak dapat memenuhi keinginan pelanggan. Hal ini bisa terjadi karena tidak selamanya barang dan jasa selalu tersedia setiap saat dan jika hal ini terjadi maka perusahaan  akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan. Dengan menggunakan konsep Channel Distribution diharapkan mampu mengatasi persediaan barang. Kerangka pemikiran ini dapat dilihat pada Gambar 2.7 sebagai berikut:
Data Persediaan Produk
Pemilihan Data Persediaan dengan Metode Channel Distribution
Analisis Metode Peramalan
Analisis Kebijakan Perusahaan
Output Metode Peramalan
Output Kebijakan Perusahaan
Perbandingan Kebijakan dan Peramalan
Jumlah Peramalan yang Ideal
Analisis EOQ antar Channnel Distribution
Analisis Persediaan Kebijakan Perusahaan
Output EOQ antar
Channel Distribution
Output Persediaan Kebijakan Perusahaan
X
X
X
X
 



































Perbandingan Kebijakan dan EOQ antar Channel Distribution
                                                                    

 EOQ Yang Optimal
 



Gambar 2.7 Kerangka Pikir Penelitian
(Sumber: Pengolahan Sendiri dari Beberapa Sumber)


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN


3.1 Lokasi Penelitian

            Lokasi penelitian dilakukan pada gudang PT. Indostationery Ritel Utama yang beralamat di Jalan Agung Karya IV Sunter Jakarta Utara.


3.2 Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian kasus dimana penelitian dilakukan menggunakan data yang dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumen. Objek penelitian dalam judul ini secara keseluruhan berkaitan dengan peramalan stok barang dan persediaan barang pada PT. Indostationery Ritel Utama.
Jenis penelitian dalam analisis ini menggunakan data sekunder yang datanya diperoleh langsung dari perusahaan. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel yaitu pemakaian bahan sesungguhnya, peramalan persediaan bahan baku, melakukan perhitungan statistik, mencari Economic Order Quantity (EOQ) masing-masing retailer, menghitung safety stock, menghitung reorder point dan menghitung total cost.

3.3 Data dan Sumber Data

Sumber data secara keseluruhan diperoleh dari dalam institusi yang menjadi tempat penelitian. Data yang sifatnya kualitatif diperoleh dari berkas-berkas atau dokumen dari bagian gudang dan bagian pembelian. Sedangkan  data yang bersifat kuantitatif diperoleh dari wawancara dan pengamatan langsung diperusahaan.

 

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Untuk menghimpun data yang dibutuhkan, maka penulis menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1.    Data Primer
a.    Teknik interview/wawancara, yaitu teknik mendapatkan data dengan mengadakan wawancara langsung dengan karyawan perusahaan yang kompeten atau lebih mengetahui secara mendalam tentang apa yang diangkat dalam penelitian ini. Dari teknik ini diharapkan dapat memperoleh data tentang gambaran umum perusahaan, bahan baku yang digunakan dalam perusahaan, dan data lain yang berhubungan dengan penelitian ini.
b.    Observasi, yaitu salah satu pengambilan data yang dilaksanakan dengan cara melakukan pencatatan data secara sistematik terhadap suatu obyek pengamatan.
2.    Data Sekunder
Dokumentasi, yaitu teknik pengumpulan data yang penyelidikannya ditujukan pada penguraian dan penjelesan melalui sumber-sumber berkas atau dokumen. Dari teknik ini diharapkan memperoleh data tentang jumlah pemakaian bahan baku, biaya persediaan bahan baku, pemakaian jenis bahan baku, waktu tunggu, persediaan pengamanan, dan pembelian bahan baku kembali.

3.5 Definisi Operasional Variabel

            Produk atau jasa yang kita gunakan adalah hasil dari serangkaian proses panjang yang melewati beberapa tahapan fisik maupun non fisik. Sebuah produk akan sampai ke tangan akhir setelah setidaknya melalui beberapa proses dari pencarian bahan baku, proses produksi dan proses distribusi atau transportasi. Proses-proses ini melibatkan berbagai pihak yang berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Penyedia bahan baku (pemasok) mensuplai kebutuhan produksi para perusahaan manufaktur yang akan mengelola bahan baku tersebut menjadi produk jadi. Produk jadi disampaikan ke pemakai akhir lewat pusat-pusat distribusi, retailer, pedagang kecil dan sebagainya. Rangkaian pihak-pihak yang menangani aliran produk inilah yang dinamakan dengan istilah Channel Distribution.
            Sebuah industri manufaktur bisa memiliki ratusan bahkan ribuan pemasok. Produk-produk yang dihasilkan oleh sebuah industri mungkin didistribusikan oleh beberapa pusat distribusi yang melayani ratusan bahkan ribuan wholesaler dan retailer, pedagang kecil dan sebagainya. Setiap channel dalam Channel Distribusi akan memiliki aktivitas-aktivitas yang saling mendukung. Secara keseluruhan aktivitas-aktivitas tersebut meliputi perancangan produk, peramalan kebutuhan, pengadaan material, produksi, pengendalian persediaan, distribusi, penyimpanan, dukungan pelayanan kepada pelanggan, proses pembayaran dan sebagainya.

3.6 Metode Analisis Data
Tahap analisis data merupakan tahap yang sangat mempengaruhi berhasil tidaknya penelitian ini, karena kesalahan dalam tahap ini akan menyebabkan kesalahan dalam tahap-tahap berikutnya. Tahap analisis adalah satu kegiatan untuk menentukan klasifikasi data, analisis data dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.    Mengumpulkan data yang berfungsi untuk memperoleh data yang diperlukan.
2.    Mengklasifikasikan atau mengelompokkan data sesuai dengan jenis dan fungsinya.
3.    Melakukan analisis data primer dan data sekunder.
Metode analisis data yang dipakai dalam menganalisis data yang telah dirumuskan diatas dengan menggunakan Fungsi Peramalan Linier dan Eksponensial serta Economic Order Quantity (EOQ) yang merupakan suatu model yang menyangkut pengadaan atau persediaan bahan baku pada suatu perusahaan.

3.6.1 Fungsi peramalan
            Peramalan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu :
1.      Definisikan tujuan peramalan
2.      Pembuatan digaram pencar
3.      Pilih minimal 2 metode peramalan yang dianggap sesuai
4.      Menghitung parameter-parameter fungsi peramalan
5.      Menghitung kesalahan tiap metode peramalan
6.      Pemilihan metode terbaik dan verifikasi peramalan

3.6.2 Melakukan Perhitungan Statistik
            Data yang terkumpul diolah dengan menggunakan konsep Channel Distibution. Metode statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.     


Mengitung rata-rata permintaan



Keterangan :
Fᵢ = Frekuensi pemesanan
Xᵢ = Jumlah pemesanan
2.     


Menghitung standar deviasi



Keterangan :
n   = Total frekuensi permintaan
Xᵢ = Jumlah pemesanan

3.6.3 Mencari Economic Order Quantity (EOQ) untuk masing-masing retailer, safety stock dan mencari reorder point.
a.      


Tanpa koordinasi antar channel distribution



Keterangan :
Q* = Jumlah pemesanan optimum
Cₒ  = Ongkos pemesanan (Rp/pemesanan)
D   = Jumlah permintaan tiap periode (kg)
h    = Ongkos simpanan
b.     


Dengan koordinasi antar Channel Distribution



Keterangan:
Q*  =  Jumlah pemesanan optimum bagi perusahaan dan retailer
Cper = Ongkos/biaya tetap yang dikeluarkan perusahaan setia memenuhi pesanan pembeli
Cret = Ongkos/biaya pesan yang dikeluarkan retailer
D    = Jumlah permintaan (unit/tahun)
hper = Ongkos simpanan yang dikeluarkan perusahaan
hret  = Ongkos simpanan yang dikeluakan retailer

3.6.4 Menghitung Safety Stock
SS = Z x sdl



 
             
Keterangan:
Sdl = Standar deviasi permintaan selama lead time
Z   = Nilai dibawah kurva normal yang ditentukan oleh service level

ROP = d x 1 + SS



3.6.5 Menghitung Reorder Point

           
Keterangan:
d   = Permintaan rata-rata per periode
1   = lead time
SS = Safety stock

3.6.6 Menghitung Total Cost
            Total Cost dihitung dengan rumus sebagai berikut :
 + (Q/2) h


 



Keterangan :
D  = permintaan per tahun
Q  = ukuran pemesanan
Cₒ = ongkos pesan
h   = ongkos simpan

3.7 Flowchart Penelitian

Menurut James A. Hall yang diterjemahkan oleh Amir Abadi Yusuf dalam buku yang berjudul Sistem Informasi Akuntansi menyatakan definisi Flowchart bahwa: “Flowchart adalah representasi grafik dari sebuah sistem yang menjelaskan relasi fisik diantara entitas-entitas kuncinya”.
Menurut Krismiaji dalam buku yang berjudul Sistem Informasi Akuntansi mengatakan definisi Flowchart bahwa: “Bagian alir (Flowchart) merupakan teknik analitas yang digunakan untuk menjelaskan aspek-aspek sistem informasi secara jelas, tepat dan logis.
Jadi kesimpulannya, Flowchart atau diagram alir merupakan sebuah diagram dengan simbol-simbol grafis yang menyatakan aliran algoritma atau proses yang menampilkan langkah-langkah yang disimbolkan dalam bentuk kotak, beserta urutannya dengan menghubungkan masing-masing langkah tersebut menggunakan tanda panah. Berikut ini beberapa petunjuk yang harus diperhatikan, seperti:
1.        Flowchart digambarkan dari halaman atas ke bawah dan dari kiri ke kanan.
2.        Aktivitas yang digunakan harus didefinisikan secara hati-hati dan definisi ini harus dapat dimengerti oleh pembacanya.
3.        Kapan aktivitas dimulai dan berakhir harus ditentukan secara jelas.
4.        Setiap langkah dari aktivitas harus diuraikan dengan menggunakan deskripsi kata.
5.        Setiap langkah dari aktivitas harus berada pada urutan yang benar.
6.        Lingkup dan range dari aktivitas yang sedang digambarkan harus ditelusuri dengan hati-hati.
7.        Menggunakan simbol-simbol flowchart yang standar.
Adapun flowchart penelitian ini ditunjukan pada Gambar 3.1 berikut ini:
    Kesimpulan
    Perbandingan Hasil Peramalan antara Kebijakan Perusahan dan
Metode EOQ dengan Koordinasi antar Channel Distribution
    Kesimpulan
Selesai
    Mulai
    Studi Lapangan
    Studi Pustaka
    Perumusan Masalah
    Pengumpulan Data
    Data Sekunder
     Data Primer
    Pengolahan Data
    Perhitungan Jumlah Permintaan Odner
Perhitungan dengan Kebijakan Perusahaan
Menghitung Parameter Fungsi Peramalan
Menghitung SEE Fungsi Peramalan
    Menghitung EOQ pada Retail
    Menghitung Total Cost
 Perencanaan Kebutuhan Persediaan PT. ISRU

    Perbandingan Kebutuhan Persediaan Kebijakan Perusahaan dan Menggunakan Metode EOQ dengan Koordinasi antar Channel Distribution
    Analisis Data Metode Channel Distribution
Pemilihan Data Persediaan dengan Metode Channel Distribution
 









































Gambar 3.1 Flowchart Penelitian

(Sumber: Pengolahan Sendiri dari Beberapa Sumber)

                                                                         




Ballou, Ronald H, 2004, Business Logistics/Suply Chain Management, Ne Jersey: Prentice Hall

Chopra, Sunil, Meindl, Peter, 2001, Supply Chain Management Theory and Implementation, Mc Graw Hill: New York

Eko, Richard Indrajait, 2002, Supply Chain Startegi Mengelola Manajemen Rantai Pasok Bagi Perusahaan Modern Indonesia, Grasindo: Jakarta

Gaspersz, Vincent, 2004, Production Planning and Inventory Control, Gramedia Pustaka Utama: Jakarta

Hakim, Armand, Yudha Setiawan. 1991, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Graha Ilmu: Yogyakarta

Herjanto, Eddy, 1997, Manajemen Produksi dan Operasi, Gramedia, Jakarta

Indrajid, Ricahrdus E, Djokopranoto, 2003, Manajemen Persediaan, PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta

Pujawan, I Nyoman dan Mahendrawathi ER, 2010,Supply Chain Management,     Edisi Kedua, Guna Widya: Surabaya

Rangkuti, Freddy, 1998, Manjemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis, edisi ketiga, BPFE: Yogyakarta

Sinulingga, Sukaria, 2008, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, Graha Ilmu: Yogyakarta

Zabidin, Yasrin, 2001, Suply Chain Manajemen Teknik Terbaru dalam Mengelola Aliran Material/Produk ddan Informasi dalam Memenangkan Persaingan, Edisi Februari 2001, Artikel Usahawan: Jakarta     

Posting Komentar untuk "Skripsi Teknik Industri ANALISIS LOGISTIK DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP CHANNEL DISTRIBUTION "

POPULER SEPEKAN

Jangan Coba Coba Sprite dan Insto ini Efeknya
Bocah Terlindas Mobil di Pom Bensin, Orangtua Lalai Awasi Anak saat Isi BBM
Ngaku Lega Usai Gorok Selingkuhan Istri hingga Tewas, Pelaku Ingin Istrinya Juga Dipenjara
Ajian Tepuk bantal Bikin Wanita Pujaan Hati Bertekuk Lutut
Pria Ini Nikahi 2 Cewek Sekaligus, Netizen: Hebat Tuh Cowok!
Taiwan Stop Pengiriman TKI ke Taiwan Mulai 4 Desember 2020
Gambar
Cara yg ditempuh oleh anggota bpupki dalam merumuskan dasar negara adalah
Permainan Tradisional Indonesia Artikel
Viral Suami Tidur di Luar, Demi Jaga Koleksi Tanaman Hias Milik Sang Istri Tercinta